Singagora Art Festival : Penciptaan Bersama di Ruang Terbuka

Pertunjukan teater “Dua Wajah” karya Suyanto (Mpok) dari Kelompok Teater Biak Singkawang (Tebs) di halaman rumah warga Kelurahan Setapuk Besar (Hulu) Singkawang, Jumat malam (05/04/2019).

Seniman dan sejumlah komunitas di Singkawang mengelar Festival Seni Singkawang Agora (Singagora) di Kelurahan Setapuk Besar (Hulu) dan Singkawang Cultural Center, 4-6 April 2019. Acara meliputi pertunjukan teater, musik eksperimental, puisi visual, performance art, pameran sketsa, foto, dan video.

Arsita Iswardhani, seniman dari Kelompok Teater Garasi, salah satu penggagas acara, mengungkapkan festival ini merupakan satu rangkaian yang berusaha mempertemukan seniman berbagai disiplin, termasuk komunitas kreatif di Singkawang.

“Kami berproses, berkolaborasi, dan belajar bersama. Kemudian menciptakan beragam bentuk seni yang merujuk pada tema toleransi dan keberagaman,” kata Arsita Iswardhani.

Performance Art oleh Sandi Muliawarman saat pembukaan Singkawang Agora Art Festival (Singagora) 2019 di Gedung Singkawang Cultural Center, Kamis malam (04/04/2019).

Lebih lanjut Arsita mengatakan, kehadiran mereka di Singkawang sejak tahun 2017 adalah salah satu cara melihat ke-Indonesiaan dari luar pulau Jawa. “Karena kami sekelompok seniman maka masuknya melalui kesenian,” kata Arsita Iswardhani.

Bersama rekannya yaitu Akbar Yumni, mereka bekerja sama dengan kelompok Teater Tebs, komunitas musik, perupa, dan komunitas kreatif yang rata-rata anak muda. Dari pertemuan itulah mereka menghasilkan sejumlah karya yang menarik.

Performance Art oleh Yucca Salsabilla yang merespon karya sketsa Ayub Dame Dwijayanto saat pembukaan Singkawang Agora Art Festival (Singagora) 2019, di Gedung Singkawang Cultural Center, Kamis malam (04/04/2019).

“Dalam proses kerjasama ini kami sama-sama belajar. Sehingga hasil tidak lagi begitu penting ketika setiap orang dan kelompok, bersama melakukan kerja kreatif sesuai dengan disiplin mereka,” ungkap Akbar Yumni.

Dalam proses kolaborasi ini pula, Teater Garasi mengundang 3 seniman musik yaitu : Yennu Ariendra (Yogyakarta), J “Mo’ong” Santoso Pribadi (Yogyakarta), dan Nursalim Yadi Anugerah (Pontianak).

Hasil workshop musik “Tukar Getar” ini telah dipresentasikan pada tanggal 27 Maret 2019 lalu di Gedung Singkawang Cultural Center.

Tidak berhenti di workshop, kegiatan yang diinisiasi Teater Garasi ini juga berlanjut hingga akhirnya seniman dan komunitas seni di Singkawang bersepakat untuk menggelar festival kecil. Sebuah festival yang melihat kembali semua proses kreatif yang telah dijalani bersama.

Dengan kata lain, Festival Seni Singagora menitikberatkan pada dinamika proses kerja kreatif dari berbagai kepentingan individu dan kelompok.

Komunitas Musim Menggambar Singkawang memamerkan karya Puisi Visual hasil workshop bersama Akbar Yumni dalam rangkaian acara Singkawang Agora Art Festival (Singagora) 2019, di Gedung Singkawang Cultural Center, Sabtu (06/04/2019)

“Festival yang digagas oleh para seniman muda Singkawang dan kelompok Teater Garasi ini menjadi penting untuk dicermati dalam medan sosial seni di Singkawang. Teks “Agora” yang diambil dari istilah Yunani, yang berarti ruang terbuka, adalah wujud gambaran kekuatan komunitas dan individu saat berinteraksi dan merespon ruang besar yaitu Singkawang, dengan perspektif serta metode baru,” ungkap Frino Bariarcianur, salah satu pegiat seni Singkawang yang terlibat.

“Kehadiran kelompok Teater Garasi pula, menjadi salah satu penanda penting tentang membangun kerja jaringan di kota ini. Selain itu, penciptaan bersama antar komunitas dan para fasilitator, telah menguatkan kembali jejaring seni Singkawang dengan kelompok seni dari luar,” kata Frino.

Pada hari pertama, Kamis (04/04/2019) para seniman yang terlibat membuka rangkaian Festival Seni Singkawang Agora (Singagora) di Singkawang Cultural Center. Menampilkan Performance Art Sandi Muliawarman dan Yucca Salsabilla, pameran sketsa karya Ayub Dame Dwijayanto, karya foto Wan Sofyan, serta feature dokumenter dari Perkumpulan MySingkawang.

Ruang pameran dokumentasi hasil kolaborasi Teater Garasi dan seniman lintas disiplin Singkawang dalam rangkaian acara Singkawang Agora Art Festival (Singagora) di Gedung Singkawang Cultural Center, Kamis (04/04/2019).

Pameran dokumentasi juga menghadirkan benda-benda yang menjadi alat musik seperti : kerikil, seng, daun kering, dan alat-alat musik lainnya. Tak kalah menariknya, pameran puisi visual yang dipamerkan oleh Komunitas Musim Bergambar hasil workshop bersama Akbar Yumni.

Pada Jumat malam (05/04/2019), Festival Seni Singagora, menampilkan pertunjukan teater berjudul “Dua Wajah” karya Suyanto yang dikenal dengan nama Mpok di Kelurahan Setapuk Besar (Hulu), Singkawang. Pertunjukan yang digelar di depan halaman rumah warga disambut antusias. Pertunjukan teater “Dua Wajah” mengisahkan kehidupan orang-orang Singkawang pada malam hari di Pasar Hongkong.

Pertunjukan teater “Dua Wajah” oleh Kelompok Teater Biak Singkawang (Tebs) dalam rangkaian Singkawang Agora Art Festival (Singagora) 2019 di Gedung Singkawang Cultural Center, Sabtu malam (06/04/2019).

Pada puncak acara, Festival Seni Singagora akan kembali menampilkan kembali hasil kolaborasi para seniman lintas disiplin di Singkawang Cultural Center, pada Sabtu malam (06/04/2019), pukul 19.30 WIB.

Festival Seni Singagora terselenggara atas kerjasama Teater Garasi/Garasi Performance Institute, Musim Menggambar, Galeri Kote Singkawang, Rumaksi, Teater Tebs, Komunitas Musik Tukar Getar, Perkumpulan MySingkawang, Masyarakat Setapuk Besar (Hulu), Singkawang Cultural Center, serta seniman perorangan dari berbagai disiplin. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *